Yang Menenun Bukan Hanya Songket, Tetapi Kesadaran Kita

Oleh: Ir. Zulfikar Tanjung. (harian24news.id/Ist)

Saya tidak berada di Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara di Pekan Raya Sumatera Utara ketika anak-anak Sekolah Luar Biasa memamerkan karya-karya mereka.

Saya tidak menyaksikan langsung jemari-jemari yang tekun menggerakkan benang menjadi selembar songket.

Saya juga tidak mendengar penjelasan para guru yang setiap hari mendampingi mereka bertumbuh.

Namun, setelah membaca reportase yang ditulis wartawan senior David Susanto, entah mengapa saya justru merasa seperti sedang berdiri di depan karya-karya itu.

Ada tulisan yang selesai ketika titik terakhir diletakkan.

Tetapi ada pula tulisan yang justru baru mulai bekerja setelah selesai dibaca.

Reportase David bagi saya termasuk yang kedua.

Ia tidak sekadar menyampaikan informasi bahwa siswa-siswa SLB Negeri Batu Bara mampu menenun songket, membuat keranjang dari kertas daur ulang, menjahit pakaian, atau menghasilkan keset yang layak dipasarkan. Fakta-fakta itu memang penting.

Namun yang jauh lebih penting adalah pertanyaan yang diam-diam muncul setelah saya menutup tulisan itu.

Selama ini, siapa sebenarnya yang memiliki keterbatasan?

Pertanyaan itu terus mengendap.

Kita sering menyebut mereka sebagai anak berkebutuhan khusus.

Istilah itu benar dalam konteks pendidikan.

Namun setelah membaca kisah mereka, saya justru merasa kitalah yang sering berkebutuhan khusus: membutuhkan lebih banyak rasa syukur, lebih banyak kesabaran, lebih banyak penghargaan kepada sesama manusia.

Anak-anak itu tidak pernah meminta belas kasihan.

*(Mereka hanya meminta kesempatan)*.

Dan ketika kesempatan itu diberikan, mereka menjawabnya bukan dengan pidato panjang, melainkan dengan karya.

Saya membayangkan selembar songket yang ditenun oleh siswa tuna rungu.

Mereka mungkin tidak pernah mendengar tepuk tangan ketika tenunan itu selesai.

Tetapi hasil karya mereka mampu membuat banyak orang berhenti melangkah dan mengaguminya.

Bukankah itu ironi yang indah?

Mereka tidak mendengar tepuk tangan.

Tetapi justru menghasilkan karya yang mengundang tepuk tangan.

Di situlah saya merasa reportase David melampaui fungsi berita.

Ia menjadi cermin.

Selama ini kita terlalu sering mengukur manusia dari apa yang tidak dimilikinya.

Padahal Tuhan berkali-kali menunjukkan kebesaran-Nya melalui apa yang masih dimiliki manusia.

Saya membayangkan anak-anak itu duduk berjam-jam merangkai benang.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada alasan.

Tidak ada kalimat, “Saya tidak bisa.”

Yang ada hanyalah kesabaran yang perlahan berubah menjadi karya.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri.

Berapa kali dalam hidup ini saya menyerah hanya karena persoalan kecil?

Berapa kali saya mengeluh, padahal Tuhan telah memberikan begitu banyak anugerah?

Di titik itulah saya sadar bahwa reportase yang baik bukan hanya membuat pembaca mengetahui sesuatu.

*(Mengenal Diri*)

Ia membuat pembaca mengenali dirinya sendiri.

Tulisan David melakukan itu.

Ia mengingatkan bahwa nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh kemauan untuk terus bertumbuh.

Anak-anak SLB Negeri Batu Bara mungkin memiliki keterbatasan dalam cara mereka mendengar, bergerak, atau belajar.

Namun mereka memiliki sesuatu yang kadang hilang dari banyak orang dewasa: ketekunan untuk terus mencoba tanpa sibuk meratapi kekurangan.

Mungkin inilah sebabnya saya menutup tulisan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Saya tidak merasa sedang mengasihani mereka.

Sebaliknya, saya merasa sedang belajar kepada mereka.

Belajar bahwa martabat manusia lahir dari kerja keras, bukan dari rasa iba orang lain.

Belajar bahwa kesempatan sering kali lebih berharga daripada simpati.

Dan belajar bahwa karya adalah bahasa yang dapat dipahami siapa pun, bahkan ketika ia lahir dari tangan yang tak pernah mendengar tepuk tangan.

Terima kasih kepada David Susanto yang telah menuliskan kisah itu.

Sebab melalui reportasenya, saya tidak hanya mengenal karya anak-anak SLB.

*(Saya juga diajak bercermin)*

Dan saya percaya, itulah salah satu fungsi paling mulia dari jurnalisme: bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan membangunkan hati.

Ketika sebuah berita mampu membuat pembacanya lebih rendah hati, lebih bersyukur, dan lebih menghargai sesama, saat itulah jurnalisme telah melampaui tugasnya sebagai penyampai informasi. Ia menjelma menjadi cahaya kecil yang menerangi nurani.

Mungkin songket-songket itu memang ditenun oleh tangan-tangan anak-anak yang sering disebut “berkebutuhan khusus”.

Namun melalui kisah yang ditulis David Susanto, saya merasa yang sesungguhnya sedang ditenun adalah kesadaran kita—agar berhenti memandang manusia dari kekurangannya, dan mulai menghormatinya karena keteguhan hatinya. (**)

(Penulis Wartawan Utama Dewan pers)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *