Jakarta, harian24news.id- Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin bukan sekadar memenangkan kontestasi politik atau menguasai aspek teknokrasi pemerintahan, melainkan kemampuan menjaga konsistensi nilai dan keberpihakan di tengah berbagai tekanan kepentingan.
Pandangan tersebut disampaikan Bima Arya saat menjadi pembicara dalam Seminar dan Bedah Buku Babad Alas yang digelar Universitas Paramadina di Kampus Cipayung, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Di hadapan civitas akademika, mahasiswa, dan sejumlah tokoh yang hadir, Bima mengajak generasi muda memahami bahwa kepemimpinan sejati dibangun melalui proses panjang pembentukan karakter, nilai, dan ideologi.
Menurut Bima, seorang pemimpin akan terus dihadapkan pada berbagai pilihan sulit yang tidak selalu memiliki jawaban ideal. Dalam kondisi tersebut, ideologi dan nilai yang diyakini menjadi kompas utama untuk menentukan arah kebijakan.
“Ketika seorang pemimpin menghadapi dilema yang rumit, yang akan menuntunnya bukan sekadar aturan atau hitung-hitungan politik, tetapi nilai, ideologi, dan keberpihakan yang sudah tertanam sejak awal,” ujarnya.
Mantan Wali Kota Bogor dua periode itu menceritakan bahwa perjalanan hidupnya dari seorang akademisi, konsultan, hingga terjun langsung ke dunia politik lahir dari keinginan untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat. Baginya, kenyamanan profesi bukan alasan untuk berhenti mengambil tanggung jawab yang lebih luas.
Ia mengaku keputusan meninggalkan dunia akademik dan konsultan politik untuk maju dalam Pilkada Kota Bogor bukanlah pilihan mudah. Namun justru dari langkah tersebut ia memahami bahwa kepemimpinan membutuhkan keberanian keluar dari zona nyaman dan kesiapan menghadapi risiko.
Setelah dipercaya memimpin Kota Bogor, Bima merasakan bahwa tantangan sesungguhnya bukanlah memenangkan pemilihan, melainkan mengelola birokrasi, menyatukan berbagai kepentingan, dan mengambil keputusan yang terkadang tidak populer.
Dalam proses tersebut, ia menggunakan filosofi Babad Alas sebagai pendekatan kepemimpinan. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu membuka jalan perubahan tanpa menciptakan konflik yang tidak perlu, serta mampu merangkul berbagai pihak demi mencapai tujuan bersama.
Bima mencontohkan sejumlah kebijakan yang pernah diambil selama memimpin Kota Bogor, mulai dari penertiban praktik perizinan yang mencatut nama kepala daerah, penguatan penggunaan produk lokal, hingga penyelesaian persoalan sosial dan keberagaman melalui dialog yang berkelanjutan.
Menurutnya, seluruh keputusan tersebut berangkat dari nilai dan keyakinan yang dibangun sejak lama, baik melalui pendidikan keluarga, pengalaman akademik, maupun lingkungan intelektual yang membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari banyaknya proyek fisik yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menghadirkan optimisme dan harapan bagi masyarakat.
“Pemimpin sejatinya adalah penjual harapan. Masyarakat harus merasakan bahwa masa depan daerahnya lebih baik dibanding hari ini,” katanya.
Karena itu, berbagai program penataan ruang publik, pembangunan pedestrian, revitalisasi kawasan kota, hingga peningkatan kualitas lingkungan hidup menurutnya bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya membangun kepercayaan dan harapan warga terhadap pemerintah.
Di akhir paparannya, Bima mengingatkan bahwa kedekatan pemimpin dengan rakyat tetap menjadi modal utama dalam membangun legitimasi dan kepercayaan publik. Pemimpin harus hadir tidak hanya saat perayaan dan keberhasilan, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
“Datanglah ketika rakyat sedang berduka maupun bergembira. Kehadiran pemimpin di tengah masyarakat akan selalu diingat lebih lama daripada sekadar pidato dan janji politik,” tegasnya.
Bagi Bima Arya, kepemimpinan yang kuat bukan lahir dari kekuasaan semata, melainkan dari kemampuan menjaga nilai, merawat harapan, dan tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat di tengah berbagai dinamika politik dan pemerintahan. (**)





