Penghargaan Diplomatik Bergengsi Menegaskan Kiprah Tokoh Kharismatik yang Menjembatani Sumut, Indonesia, dan Dunia

Jakarta, harian24news.id-Tidak banyak tokoh daerah yang mampu meninggalkan jejak kuat di panggung politik nasional sekaligus mengukir pengakuan di arena diplomasi internasional. Drs. H. Hasrul Azwar, MM, termasuk di antara sedikit nama itu.

Politikus senior yang puluhan tahun menjadi bagian penting perjalanan demokrasi Sumatera Utara tersebut kini menorehkan babak baru dalam catatan pengabdiannya.

Kerajaan Maroko menganugerahkan Royal Medal (Wissam Malaki), penghargaan kerajaan tertinggi, sebagai bentuk apresiasi atas jasa dan kontribusinya selama mengemban amanah sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Maroko periode 2019–2025.

Penghargaan diserahkan Raja Maroko, King Mohammed VI, melalui Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, dalam resepsi peringatan 27 tahun takhta Raja Mohammed VI di Hotel Four Seasons, Jakarta, Kamis malam.

Bagi Hasrul Azwar, penghargaan itu bukan sekadar medali. Ia merupakan pengakuan internasional terhadap perjalanan panjang seorang putra Sumatera Utara yang selama puluhan tahun memilih jalan pengabdian.

Kariernya membentang dari anggota DPRD Kota Medan, anggota dan Ketua Fraksi PPP DPRD Sumatera Utara, Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, Ketua DPW PPP Sumut, anggota DPR RI, hingga dipercaya negara sebagai duta besar. Setiap fase memperlihatkan satu benang merah: kemampuan membangun jembatan, mempertemukan kepentingan, dan menghadirkan dialog.

Kemampuan itulah yang kemudian menemukan panggung lebih luas di dunia diplomasi.

Selama enam tahun bertugas di Rabat, Hasrul dinilai berhasil memperkuat hubungan Indonesia dan Maroko melalui berbagai kerja sama strategis di bidang pendidikan, ekonomi, perdagangan, keagamaan, pariwisata, hingga kebudayaan.

Dari sepuluh Duta Besar Indonesia yang pernah bertugas di Maroko sejak hubungan diplomatik dibuka pada 1960, hanya tiga yang menerima penghargaan bergengsi tersebut. Nama Hasrul Azwar kini tercatat di dalamnya—sebuah capaian yang menempatkannya sebagai salah satu diplomat Indonesia dengan pengakuan paling prestisius dari Kerajaan Maroko.

Dalam sambutannya yang disampaikan menggunakan Bahasa Arab, Hasrul mengaku terkejut sekaligus terharu menerima penghargaan tersebut.>

“Penghargaan ini sejatinya bukan untuk saya pribadi dan keluarga, tetapi untuk bangsa dan rakyat Indonesia,” ujarnya.

Kalimat itu mencerminkan karakter yang selama ini melekat pada dirinya: tidak menempatkan pencapaian sebagai kemenangan personal, melainkan sebagai kehormatan bagi negara.

Suasana resepsi berlangsung khidmat. Hadir Menteri Perdagangan Budi Santoso, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, anggota DPR RI Yasonna H. Laoly, mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, para duta besar negara sahabat, serta sejumlah tokoh nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Hasrul juga menyampaikan ucapan selamat kepada Raja Mohammed VI seraya mendoakan kemakmuran bagi rakyat Maroko.

Ia mengaku selalu terkesan dengan penggalan akhir lagu kebangsaan Maroko yang berbunyi “God, Homeland and King”—Allah, Tanah Air, dan Raja—yang menurutnya menggambarkan kuatnya kecintaan rakyat Maroko kepada Sang Pencipta, tanah air, dan pemimpinnya.

Di tanah air, penghargaan tersebut dipandang sebagai pengakuan yang sangat layak.

Jejak itu juga terekam dalam pesan perpisahan keluarga besar KBRI Rabat ketika masa tugasnya berakhir. Bagi para staf diplomatik, Hasrul bukan sekadar kepala perwakilan negara, melainkan pemimpin, sahabat, sekaligus sosok yang membangun suasana kekeluargaan dalam menjalankan misi diplomasi Indonesia.

Penghargaan dari Kerajaan Maroko itu sekaligus menjadi penegasan bahwa kepemimpinan tidak berhenti di ruang politik.

Dalam diri Hasrul Azwar, politik telah menjelma menjadi diplomasi, dan diplomasi bermuara pada pengabdian.

Bagi Sumatera Utara, ia bukan sekadar politikus senior. Ia telah menjelma menjadi tokoh kharismatik yang berhasil membawa nama daerahnya melintasi batas-batas geografis, hingga mendapat penghormatan dari sebuah kerajaan di belahan utara Benua Afrika.

Di tengah zaman yang kerap mengukur keberhasilan dari popularitas sesaat, perjalanan Hasrul Azwar menghadirkan pelajaran berbeda: bahwa keteladanan, integritas, dan konsistensi pengabdian pada akhirnya akan menemukan pengakuannya sendiri, bahkan dari panggung dunia. (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *