Warga Binjai dan Langkat Berhasil Telusuri Tanah Karo, Ini Jaraknya !

 

Teks. Foto : Warga Binjai tampak sedang menelusuri Tanah Karo. (harian24news.co/Siswanto Ihsan)

 

Tanah Karo, harian24news.co- Sebanyak puluhan Warga asal Binjai dan Langkat berhasil telusuri Tanah Karo menggunakan sepeda motor berbagai merek, setelah berangkat mulai dari Binjai dan Langakat terlebih dahulu sampai di Desa Telaga. Kemudian, rombongan melintasi Gunung Sinabung menuju arah Desa Naman, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara, Jumat (3/1/19).

Adapun jarak tempuh sebagai berikut :

Kalau kita perjalanan mulai dariari Tugu Rajawali adalah tanda batas antara kawasan Taman Hutan Raya Bukit Barisan (Tahura) Kabupaten Karo dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat.

Menurut Informasi dari Warga Masyarakat sekitar yang mengaku bernama Indra tersebut, Dibangunnya tugu perbatasan tersebut pada tahun 1987 oleh TNI. Jarak dari Kabanjahe ke Tugu Rajawali batas Karo-Langkat, sekitar 29 km. Dari Tugu Kuliki ke Kota Binjai sekitar 40 km, dari Tugu Kuliki ke Kota Medan sekitar 70 km. Jarak dari Desa Kuta Rayat (Kecamatan Naman Teran) ke Tugu Kuliki sekitar 7,5 km dan dari Tugu Kuliki ke Telagah (Kabupaten Langkat) sekitar 8 Km.

Panorama kawasan itu juga sangatlah menarik. Salah satu alternatif jalan pintas bagi daerah kabupaten/kota lain Seperti Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Singkil, Subusalam, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun dan Karo menuju Binjai, Langkat, Kuala Simpang dan Aceh Timur atau ke Medan.

Menurutnya lagi, banyaknya warga yang lebih memilih Jalur menuju Tanah Karo melalui Langkat tersebut langsung ke Kota Buah itu sebagai destinasi pavoritnya sehingga bisa mengurangi kepadatan/kemacetan Jalan Utama Berastagi-Medan yang semakin sering terjadi.

Jalan tembus Karo-Langkat yang sering digunakan menjadi jalur alternatif Medan-Tanah Karo dan sejumlah kabupaten lainnya yang melintas dari Karo ke Medan maupun sebaliknya, namun sayangnya hingga hari ini, pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) belum mengijinkannya walaupun sebelumnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah memberi izin pinjam pakai untuk jalan dimaksud.

Namun demikian, saya sangat yakin kekurangan persyaratan akan dipenuhi pihak Dinas PUPR Provinsi. Nantinya, ujarnya mengimbau, agar masyarakat sekitar kawasan ikut bertanggung jawab menjaga kawasan TNGL.

Hal itu juga dapat mengurangi kemacetan Jalan Kabanjahe-Medan yang berkeinginan ke Langkat, karena tidak perlu lagi dari Medan. Di sisi lainnya, apabila terjadi longsor jalan Kabanjahe-Medan maka sudah ada jalan alternatif lainnya.

Hanya memang harus diperhatikan bersama pemerintah dan masyarakat karena kawasan itu termasuk hutan lindung, maka harus ada ketentuan hukum yang jelas,” tuturnya.

Pihaknya minta pembangunan jalan alternatif itu bukan untuk tempat tinggal masyarakat apalagi untuk usaha. Karena itu, jangan sampai ada yang memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan pribadi.

“Jalan tembus yang dibangun di kawasan ini adalah untuk memerlancar jalur lalu lintas, bukan untuk tempat tinggal dan berbisnis,” cetusnya.

Sambungnya lagi, keselamatan dan kelestarian lingkungan tetap harus dijaga, jangan dirusak, apalagi dieksploitasi kepentingan kelompok.

Ketegasan BBTNGL dan dinas kehutanan provinsi sangat diharapkan dan kepatuhan masyarakat harus ditanamkan.

“Hutan tersebut harus tetap terpelihara, karena itu harus dijaga dengan ketat jangan sampai terjadi perambahan lahan dan pengambilan kayu illegal logging,” Imbuh Indra.

Jalan tembus Karo-Langkat ini sangat evektif untuk menyelamatkan ribuan warga bila sewaktu-waktu erupsi Sinabung kembali terjadi.”Selama erupsi Gunung Sinabung jalan ini sudah digunakan sebagai jalur evakuasi.

Hal inilah yang harusnya dikedepankan oleh semua pihak, menambahkan lagi, Warga tersebut juga berpesan dirinya mengatakam betapa pentingnya jalan tembus Karo-Langkat bagi masyarakat kedua kabupaten bertetangga itu. Secara historis dulunya ada hubungan kekeluargaan yang sangat kental antara masyarakat Karo dan masyarakat Langkat.

Hubungan kekerabatan secara turun temurun ini, hingga sekarang masih tetap berlangsung. Dan dalam interaksi sosial dalam menjalankan kekerabatan budayanya jalur tembus ini satu-satunya jalan untuk saling mengunjungi warga Masyarakat.

Selain itu, jalur ini juga merupakan jalur ekonomis sebagai nafas kehidupan bagi kedua daerah yang dulunya dikenal jalur “perlanja sira”. “Artinya, jauh sebelum ada jalan Medan-Berastagi, jalur Karo-Langkat sudah digunakan bagi masyarakat ke dua kabupaten dalam hal perdagangan karena dekat ke kota Binjai dan Medan.

” Sekarang sudah kita semua sudah dapat menyimpulkannya. Berapa KM jarak dari Binjai-Langkat menuju Berastagi Tanah Karo, ” sebut Indra salah satu Warga Jalan Umar Baki kepada Awak Media, Jumat (3/1/20).

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *