Binjai, harian24news.id-Proses seleksi dan persiapan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Binjai Tahun 2026 diwarnai polemik dan dugaan praktik tidak transparan.
Seorang peserta terpilih berinisial Rev mendadak harus gigit jari setelah posisinya diduga langsung digantikan oleh peserta lain, menyusul insiden sakit sementara yang dialaminya.
Menuturkan kronologi kejadian, Rev menceritakan peristiwa itu bermula saat dirinya mengikuti sesi latihan rutin di Lapangan Merdeka Kota Binjai pada Selasa (4/8/2026).
Saat itu, para peserta menjalani latihan baris-berbaris dan berdiri di tempat (parade) selama kurang lebih 30 menit.
Saat jam istirahat, Rev tiba-tiba mengalami pusing kelelahan sehingga dibawa ke rumah sakit. Ia lantas dilarikan oleh tim kesehatan ke RSUD Djoelham Binjai untuk mendapatkan penanganan medis.
Kendati hanya mengalami kelelahan dan dehidrasi ringan, nasib remaja berusia 17 tahun asal SMA Swasta di Binjai ini justru berada di ujung tanduk. Saat masih dirawat di rumah sakit, ia dikirimi surat pengunduran diri melalui pesan singkat WhatsApp.
Tidak lama berselang, seorang staf Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Binjai berinisial RPA mendatangi rumah sakit untuk mengambil seluruh perlengkapan atribut Paskibraka miliknya, mulai dari satu setel pakaian Dinas Pakaian Lapangan (PDL), sepatu, hingga topi.
Ironisnya, nama Rev juga langsung didepak dari grup WhatsApp resmi pelatihan.
“Ibu itu dari Kesbangpol, dia yang ngambil bajunya satu setel, PDL sama sepatu sama topi di rumah sakit,” ungkap Rev.
Padahal, ia telah melalui tujuh tahapan seleksi yang sangat ketat sebelum akhirnya keluar sebagai perwakilan terbaik dari sekolahnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala Badan Kesbangpol Kota Binjai, Drs. Ruslianto, M.Pd., memberikan tanggapan singkat melalui pesan WhatsApp pada Kamis (6/8/2026).
“Sakit di-opname, pertimbangan dokter dan pelatih tidak memungkinkan untuk melanjutkan latihan,” ujar Ruslianto.
Namun, saat dikonfirmasi lebih lanjut mengenai tidak adanya surat keterangan atau rekomendasi tertulis dari pihak rumah sakit yang menyatakan peserta permanen tidak layak berlatih, Ruslianto memilih bungkam dan tidak memberikan respons lanjutan.
Pernyataan pihak Kesbangpol tersebut berbanding terbalik dengan fakta medis di lapangan.
Berdasarkan dihimpun pihak rumah sakit, pada Kamis (6/8/2026), menegaskan kondisi Rev tidak mengalami masalah berat dan sudah dinyatakan sehat untuk beraktivitas kembali.
“Kalau dari dokter, diagnosisnya tonsilitis, faringitis, sama kolik abdomen. Penafsirannya enggak ada masalah apa-apa, mungkin dia kurang minum. Tapi kalau untuk kasus berat sih tidak ada, Pak,” jelasnya.
Ia juga memastikan korban sudah diperbolehkan pulang dan layak beraktivitas seperti sediakala pada hari itu.
“Sudah bisa pulang hari ini… Sudah (bisa beraktivitas),” pungkasnya. (**)





