Jakarta, harian24news.id- Di tengah berbagai tantangan politik, ekonomi, dan sosial yang terus berkembang, pengamat politik dan kebijakan publik Samuel F. Silaen menilai Indonesia saat ini menghadapi persoalan yang lebih mendasar dibanding sekadar isu pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, bangsa ini tengah mengalami krisis keberanian moral di ruang publik.
Dalam wawancara dengan awak media, Sabtu (13/6/2026), Samuel menegaskan bahwa Indonesia tidak pernah kekurangan sumber daya manusia berkualitas. Berbagai perguruan tinggi setiap tahun melahirkan akademisi, profesional, peneliti, dan pakar yang memiliki kompetensi tinggi di bidangnya masing-masing. Namun, kemampuan intelektual tersebut dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak profesor, akademisi, praktisi, dan ahli yang kompeten. Yang menjadi persoalan hari ini adalah semakin langkanya keberanian moral untuk berdiri di pihak kebenaran ketika berhadapan dengan ketidakadilan,” ujar Samuel.
Ia menilai fenomena tersebut terlihat dari kecenderungan sebagian kalangan terdidik yang memilih diam terhadap berbagai persoalan publik. Banyak pihak, kata dia, lebih memilih menjaga posisi, kenyamanan, dan kepentingan pribadi dibanding mengambil risiko untuk menyampaikan kritik atau memperjuangkan perubahan.
Menurut Samuel, budaya pragmatisme yang berkembang dalam kehidupan sosial dan politik turut memperkuat sikap tersebut. Akibatnya, ruang publik kehilangan suara-suara kritis yang seharusnya menjadi penyeimbang dalam proses pengambilan kebijakan.
“Banyak orang memilih berada di zona aman. Mereka mengetahui persoalan yang terjadi, tetapi enggan bersuara karena khawatir kehilangan jabatan, akses, atau kenyamanan yang sudah dimiliki. Padahal, perubahan tidak pernah lahir dari sikap diam,” katanya.
Samuel menegaskan bahwa kecerdasan intelektual tanpa integritas dan keberanian hanya akan melahirkan kelompok teknokrat yang berpikir pragmatis. Dalam kondisi
demikian, kebijakan publik berpotensi lebih banyak dipengaruhi kepentingan jangka pendek daripada kebutuhan rakyat secara luas.
Ia mengingatkan bahwa sejarah berbagai bangsa besar menunjukkan perubahan selalu lahir dari individu-individu yang berani mengambil sikap, bahkan ketika harus menghadapi tekanan dan konsekuensi yang tidak ringan. Sebaliknya, ketika kelompok intelektual memilih diam, ruang demokrasi akan semakin sempit dan kepentingan publik berisiko terabaikan.
“Keberanian moral adalah fondasi utama kehidupan berbangsa yang sehat. Ketika mereka yang memahami persoalan memilih bungkam, maka ruang publik akan diisi oleh kepentingan-kepentingan yang belum tentu berpihak kepada rakyat,” tegasnya.
Lebih jauh, Samuel menilai kemajuan bangsa tidak hanya dapat diukur dari pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi semata. Menurutnya, kualitas sebuah negara juga ditentukan oleh karakter masyarakatnya, terutama dalam menjaga etika, integritas, serta keberanian menegakkan nilai-nilai kebenaran.
Karena itu, ia mengajak kalangan akademisi, mahasiswa, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya kritis dan kepedulian terhadap persoalan publik. Menurutnya, masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada keberanian warga negara dalam mengawal kepentingan bersama.
“Bangsa yang besar lahir dari masyarakat yang menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Keberanian untuk membela kebenaran dan keadilan adalah modal utama untuk menjaga demokrasi tetap sehat dan memastikan pembangunan benar-benar berpihak kepada kesejahteraan rakyat,” pungkas Samuel F. Silaen. (**)





