Aceh, harian24news.id-Banjir bandang yang melanda wilayah Takengon, Aceh Tengah, pada Rabu, 26 November 2025, meninggalkan dampak serius bagi kehidupan warga. Daerah pegunungan yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata unggulan Aceh itu kini berada dalam kondisi darurat akibat rusaknya infrastruktur dan terputusnya akses logistik.
Bencana tersebut menghanyutkan ratusan rumah warga, jembatan penghubung antar desa, jaringan listrik, serta fasilitas telekomunikasi. Akibatnya, sejumlah desa hingga kini masih terisolasi dan sulit dijangkau bantuan.
“Banyak rumah warga yang hanyut, termasuk rumah saya,” ujar Niko, relawan Bikers Takengon dari Desa Mandele, saat dihubungi pada Senin, 15 Desember 2025. Ia menjelaskan bahwa komunikasi dengan dunia luar sempat terputus selama beberapa hari akibat rusaknya jaringan internet dan listrik.
Kondisi semakin memprihatinkan karena keterbatasan akses transportasi dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Harga BBM dilaporkan melonjak tajam, sehingga menghambat upaya distribusi bantuan. Sejumlah warga terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer untuk mendapatkan bahan pangan.
“Krisis pangan sudah kami rasakan. Anak saya termasuk yang mengalami kelaparan,” kata Kasman, warga Takengon lainnya. Dari dokumentasi yang dikirimkan, terlihat seorang anak menyantap sisa nasi sebagai satu-satunya makanan yang tersedia.
Hingga saat ini, warga masih sangat bergantung pada bantuan dari luar daerah. Namun, terdapat sedikit perkembangan positif setelah jalur KKA dilaporkan sudah dapat dilalui kendaraan roda dua, sehingga membuka peluang masuknya bantuan secara bertahap.
Sebagai bentuk solidaritas, komunitas Bikers Binjai Peduli menyatakan kesiapan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan sekaligus membantu akses menuju desa-desa yang masih terisolasi di wilayah Takengon.
Masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam penyaluran bantuan dapat menghubungi:
Mardy (Bikers Binjai Peduli): 0852-6110-3444
Niko (Relawan Takengon): 0813-6225-3332
Kasman (Relawan Takengon): 0822-7791-1151. (**)





